Penguatan Literasi Anak Sekolah melalui Kegiatan Non-Gadget Selama Liburan
KOTA CIREBON — Liburan sekolah sering kali identik dengan waktu luang dan meningkatnya penggunaan gadget oleh anak-anak. Padahal, masa liburan justru merupakan momentum strategis untuk menguatkan literasi anak sebagai bekal penting dalam menghadapi perkembangan dunia digital yang semakin kompleks. Literasi pada era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi informasi dan literasi digital.
Literasi informasi dan digital menuntut anak memiliki kemampuan mengakses, memahami, memilah, serta menggunakan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab. Kemampuan ini menjadi semakin krusial karena anak-anak tumbuh di tengah arus informasi yang cepat, berlimpah, dan tidak semuanya dapat dipercaya kebenarannya.
Kegiatan Non-Gadget sebagai Fondasi Literasi
Pengurangan intensitas penggunaan gadget selama liburan bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi. Sebaliknya, kegiatan non-gadget berperan sebagai fase penguatan fondasi berpikir kritis, konsentrasi, dan kontrol diri. Anak perlu memiliki kesiapan mental dan kemampuan berpikir yang matang sebelum berinteraksi lebih intens dengan ruang digital yang penuh dengan berbagai jenis informasi.
Melalui aktivitas non-gadget, anak dilatih untuk memproses informasi secara lebih mendalam, tidak serba instan, serta terbiasa menyelesaikan masalah tanpa selalu bergantung pada layar digital.
Membaca, Menulis, dan Berdiskusi sebagai Latihan Literasi
Aktivitas membaca buku, menulis ringkasan, membuat catatan, atau menceritakan kembali isi bacaan tetap menjadi inti dari penguatan literasi. Namun, literasi anak tidak berhenti pada pemahaman teks. Anak juga perlu dikenalkan pada keterampilan literasi digital, antara lain:
- Mengenali sumber informasi yang tepercaya
- Memahami perbedaan antara fakta, opini, dan iklan terselubung
- Menyadari bahwa tidak semua informasi di internet benar
- Mengenali potensi hoaks, disinformasi, dan konten menyesatkan
Dengan keterampilan tersebut, anak tidak hanya menjadi pembaca atau penonton, tetapi juga pembelajar aktif yang mampu menilai kualitas informasi.
Penguatan literasi sejak dini bertujuan membentuk daya kritis, kontrol diri, serta etika dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi. Anak yang memiliki literasi informasi yang baik akan lebih tahan terhadap pengaruh konten negatif, provokatif, maupun manipulatif yang banyak beredar di ruang digital.
Selain itu, literasi digital juga berperan dalam menumbuhkan empati, tanggung jawab sosial, dan kesadaran akan dampak penggunaan teknologi terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Praktik Literasi Digital Selama Liburan
Liburan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium kecil literasi digital di lingkungan keluarga. Pada fase ini, anak tidak sedang berada dalam tekanan akademik, sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih alami melalui percakapan, kebiasaan sehari-hari, dan pengalaman langsung. Literasi digital pun tidak harus diajarkan secara formal, melainkan melalui praktik sederhana yang melatih cara berpikir anak dalam menghadapi informasi.
1. Mengaitkan Bacaan dengan Isu Digital
Membaca buku cerita, dongeng, atau bacaan nonfiksi dapat menjadi pintu masuk untuk membangun literasi digital. Setelah membaca, orang tua dapat mengajak anak menghubungkan isi bacaan dengan informasi yang sering muncul di media digital. Misalnya, membandingkan karakter dalam cerita dengan tokoh di media sosial, atau membahas perbedaan cerita fiksi dengan informasi faktual yang beredar di internet. Dari sini, anak belajar bahwa tidak semua yang menarik atau viral selalu mencerminkan kenyataan, serta pentingnya memahami konteks sebuah informasi.
2. Latihan Menceritakan Ulang dan Berargumen
Meminta anak menceritakan ulang apa yang dibaca atau ditonton melatih kemampuan memahami informasi secara utuh, bukan sekadar mengingat potongan-potongan isi. Lebih jauh, ajak anak menyampaikan pendapatnya: mengapa mereka setuju, ragu, atau tidak setuju terhadap suatu informasi. Proses ini membantu anak belajar menyusun alasan, mengenali sudut pandang, serta memahami bahwa setiap informasi bisa ditanggapi secara kritis, bukan diterima begitu saja.
3. Simulasi Memilah Informasi
Anak perlu dibiasakan menghadapi informasi dengan sikap bertanya. Orang tua dapat menyajikan contoh berita, cerita, atau potongan informasi—baik yang masuk akal maupun yang meragukan—untuk didiskusikan bersama. Dalam diskusi ini, anak diajak mengenali ciri informasi yang perlu dipertanyakan, seperti judul yang terlalu sensasional, sumber yang tidak jelas, atau isi yang sulit dibuktikan. Simulasi ini menjadi latihan awal agar anak tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi di ruang digital.
4. Membiasakan Jeda Sebelum Konsumsi Digital
Salah satu keterampilan penting dalam literasi digital adalah kemampuan mengendalikan impuls. Anak perlu dibiasakan untuk tidak langsung membuka gadget setiap kali merasa bosan atau tidak ada aktivitas. Dengan jeda sejenak, anak belajar mengenali kebutuhannya: apakah benar ingin mencari informasi, atau hanya sekadar mengisi waktu. Kebiasaan ini membantu anak membangun kontrol diri dan tidak menjadikan gadget sebagai pelarian utama.
5. Menumbuhkan Refleksi Diri
Refleksi menjadi bagian penting dalam literasi digital yang sering terabaikan. Setelah anak menggunakan gadget, ajak mereka berbicara tentang perasaannya: apakah merasa senang, tenang, lelah, atau justru sulit fokus. Percakapan sederhana ini membantu anak mengenali dampak penggunaan teknologi terhadap dirinya sendiri. Kesadaran ini menjadi dasar penting agar anak kelak mampu mengatur penggunaan gadget secara mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan pendekatan yang tepat, liburan sekolah tidak hanya menjadi waktu istirahat, tetapi juga kesempatan emas untuk membangun fondasi literasi anak. Penguatan literasi informasi dan digital sejak dini akan membantu anak tumbuh menjadi generasi yang kritis, bijak dalam bermedia, serta mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan produktif di masa depan.
Referensi:
- Ali, M., Muslikun, & Hanifah. (2025). Peningkatan Literasi Digital Masyarakat Melalui Sosialisasi Penggunaan Internet Aman dan Bertanggung Jawab di Era AI. JEPENDIMAS: Jurnal Ekonomi, Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, 2(2), 50-54. DOI: https://doi.org/10.63200/jependimas.v2i2.46
- Kemendikbudristek. (2022). Kemendikbudristek Perkuat Literasi Digital untuk Ciptakan Pendidikan Berkualitas. Diakses dari https://itjen.dikdasmen.go.id/web/kemendikbudristek-perkuat-literasi-digital-untuk-ciptakan-pendidikan-berkualitas/.
- Kemendikdasmen. (2021). Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik dan Anak Didik di Era Digital. Diakses dari https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/literasi-digital-bagi-tenaga-pendidik-dan-anak-didik-di-era-digital.
- Mulyono, D., & Ansori. (2020). Literasi Informasi dalam Kerangka Pengembangan Pendidikan Masyarakat. Jurnal Comm-Edu, 3(1), 1-6.
Olah Data: Cahaya Dwi Anggraeni (Siswa PKL MAN 2 Kota Cirebon)
Olah Grafis: Hizmi Aulia dan Cintia Sela (Siswa PKL MAN 2 Kota Cirebon)
Pembimbing: Dea Deliana Dewi
Penyunting: Elsi Yuliyanti
Program Pembimbingan Magang dan PKL
Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon
Jalan Dr. Sudarsono No. 40, Kota Cirebon, 45134
https://dkis.cirebonkota.go.id
Instagram: @dkiskotacirebon @pemdakotacrb @ppidlapor.cirebonkota
Terkini
Terpopuler