KOTA CIREBON — Penggunaan layar yang berlebihan menjadi masalah yang terus meningkat di masyarakat modern. Semakin banyaknya perangkat digital berkontribusi pada meningkatnya perilaku kurang gerak dan menimbulkan risiko bagi kesehatan fisik, mental, serta kesejahteraan secara keseluruhan. Dalam konteks ini, screen time kerap dipahami sebagai persoalan kedisiplinan individu semata, yakni seberapa lama seseorang mampu mengatur dirinya saat berhadapan dengan layar.
Namun, jika dilihat dari perspektif teknologi informasi dan komunikasi, screen time tidak sepenuhnya lahir dari pilihan personal. Pola penggunaan layar juga dipengaruhi oleh cara sistem digital dirancang, dioperasikan, dan dikomunikasikan kepada publik. Dengan kata lain, durasi seseorang di depan layar tidak dapat dilepaskan dari desain teknologi yang secara aktif membentuk perilaku pengguna.
Desain Teknologi dan Logika Retention
Sebagian besar platform digital dikembangkan dengan model bisnis berbasis retention, yakni menjaga pengguna tetap berada di aplikasi selama mungkin. Semakin lama pengguna bertahan, semakin besar peluang terjadinya interaksi, paparan iklan, dan pengumpulan data perilaku. Untuk mencapai tujuan itu, algoritma mempersonalisasi konten berdasarkan kebiasaan pengguna.
Sistem secara terus-menerus mempelajari apa yang sering ditonton, direspons, atau diabaikan, kemudian menyajikan konten serupa secara berulang. Proses ini membuat pengalaman digital terasa relevan dan menarik, tetapi pada saat yang sama memperpanjang durasi penggunaan layar tanpa selalu disadari oleh pengguna.
Sejumlah fitur umum dalam platform digital berperan signifikan dalam membentuk pola ini, antara lain:
- Infinite scroll, memungkinkan pengguna menggulir layar tanpa batas, sehingga kesadaran terhadap waktu berkurang dan konsumsi konten berlangsung tanpa disadari.
- Autoplay, antarmuka dengan minim interupsi, serta algoritma personalisasi bekerja secara bersamaan dalam mengatur alur konsumsi konten. Mekanisme ini mendorong binge-watching yang berlangsung halus dan kerap menghabiskan waktu berjam-jam.
- Notifikasi real-time, menjaga keterhubungan pengguna, namun berpotensi memecah konsentrasi dan menciptakan dorongan untuk selalu responsif.
- Sistem rekomendasi berbasis algoritma, memudahkan penemuan konten yang relevan, tetapi juga dapat membatasi keberagaman informasi yang dikonsumsi.
Fitur-fitur ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan, namun secara tidak langsung mendorong keterlibatan yang terus-menerus. Tanpa kesadaran dan pengaturan yang memadai, pengguna berisiko kehilangan kendali atas waktu dan perhatian yang dimilikinya.
Dampak Screen Time Berlebihan terhadap Kesehatan dan Kesejahteraan
Screen time yang tidak dikelola dapat berdampak luas pada kesehatan fisik, kondisi mental, serta kesejahteraan secara keseluruhan.
Dari sisi fisik, penggunaan perangkat digital dalam durasi panjang sering menimbulkan kelelahan mata atau computer vision syndrome, ditandai dengan mata tegang, penglihatan kabur, sakit kepala, serta nyeri leher dan bahu. Postur tubuh yang buruk saat menatap layar, ditambah minimnya aktivitas fisik, juga meningkatkan risiko nyeri punggung serta gangguan muskuloskeletal lainnya.
Dari aspek kesehatan mental, paparan layar berlebihan berkorelasi dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati, seperti kecemasan dan depresi, terutama pada remaja dan kelompok usia muda. Screen time yang tinggi juga mengganggu kualitas tidur akibat paparan cahaya layar dan stimulasi kognitif berlebihan, yang pada jangka panjang memperburuk kondisi psikologis.
Lebih jauh, ketergantungan pada layar mengurangi interaksi langsung, memicu rasa kesepian, dan melemahkan keterampilan sosial. Pada anak dan remaja, hal ini juga berpotensi menurunkan rentang perhatian serta menghambat kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Dalam kondisi ekstem, pola penggunaan kompulsif dapat berkembang menjadi adiksi digital, seperti internet gaming disorder.
Tips Membatasi Screen Time
Sebagai langkah awal menuju penggunaan layar yang lebih sehat, terdapat beberapa upaya praktis yang dapat dilakukan secara bertahap dan konsisten:
- Gunakan fitur bawaan ponsel, seperti Digital Wellbeing (Android) atau Screen Time (iOS), untuk memantau dan membatasi durasi penggunaan aplikasi.
- Aktifkan Mode Fokus atau Jangan Ganggu, terutama saat bekerja, belajar, atau beristirahat, agar perhatian tidak mudah terpecah oleh notifikasi.
- Nonaktifkan notifikasi dari aplikasi yang tidak penting untuk mengurangi distraksi dan menekan kebiasaan mengecek ponsel secara berulang tanpa tujuan yang jelas.
- Tetapkan area tertentu di rumah, seperti kamar tidur atau ruang makan, sebagai zona bebas gawai guna mendorong interaksi langsung dan kualitas waktu bersama keluarga.
- Ubah tampilan layar ke mode hitam putih (grayscale) agar visual menjadi kurang menarik, sehingga keinginan untuk terus menatap layar dapat berkurang.
- Hindari penggunaan layar setidaknya satu jam sebelum tidur, karena paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi melatonin dan menurunkan kualitas tidur.
- Lakukan digital detox secara berkala, misalnya dengan menetapkan jam-jam bebas teknologi (tech-free hours) atau bahkan satu hari tanpa layar dalam seminggu untuk memulihkan fokus dan keseimbangan mental.
- Ganti waktu layar dengan aktivitas nyata, seperti berolahraga ringan, membaca buku, bercengkerama dengan keluarga, atau menjalani hobi, sehingga kebutuhan hiburan dan relaksasi tidak selalu bergantung pada perangkat digital.
Dampak Screen Time terhadap Anak
Pada anak-anak, isu screen time memerlukan perhatian khusus karena berkaitan langsung dengan proses tumbuh kembang fisik, kognitif, dan emosional. Paparan layar berlebihan dapat memengaruhi kemampuan fokus, perkembangan bahasa, serta pengelolaan emosi, sekaligus menghambat pembentukan keterampilan sosial akibat minimnya interaksi langsung.
Panduan internasional merekomendasikan batasan berikut:
- Di bawah 2 tahun: tidak dianjurkan terpapar layar, kecuali komunikasi video dengan pendampingan.
- Usia 2–5 tahun: maksimal 1 jam per hari di hari kerja dan hingga 3 jam di akhir pekan, dengan konten berkualitas dan pendampingan orang dewasa.
- Usia 6 tahun ke atas: penerapan aturan penggunaan yang konsisten, seimbang dengan aktivitas fisik, waktu tidur, dan interaksi sosial.
Panduan tersebut menegaskan bahwa pengelolaan screen time anak tidak dapat dilepaskan dari konteks penggunaan dan peran lingkungan, terutama keluarga.
Untuk membangun kebiasaan digital yang sehat, orang tua dan pendamping perlu mempertimbangkan tingkat kedewasaan anak sebelum memberikan akses ke perangkat digital, memastikan konten yang dikonsumsi sesuai dengan usia, serta mewaspadai pengaruh iklan terhadap pilihan dan perilaku anak.
Di saat yang sama, anak perlu didorong untuk terlibat dalam berbagai aktivitas non-layar, dikenalkan pada prinsip privasi dan keamanan daring, serta diarahkan agar teknologi dimanfaatkan untuk hal-hal positif, seperti mengembangkan kreativitas dan mempererat hubungan dengan keluarga maupun teman.
Menuju Kesadaran Digital yang Lebih Seimbang
Teknologi digital menghadirkan banyak kemudahan, namun juga menuntut pengguna untuk mengelola perhatian secara sadar. Screen time bukan untuk dihindari sepenuhnya, melainkan untuk dipahami dan diatur agar tetap mendukung kesehatan, produktivitas, serta kualitas hidup.
Literasi digital yang memadai menjadi kunci dalam membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Kendali tidak sepenuhnya berada di tangan sistem, tetapi juga pada kemampuan manusia untuk menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Referensi:
- Choi, E., J., Christiaans, E., & Duerden, E., G. (2025). Screen time woes: Social media posting, scrolling, externalizing behaviors, and anxiety in adolescents. Computer in Human Behavior, 170, 1-12. DOI: https://doi.org/10.1016/j.chb.2025.108688
- Devi, K., A., & Singh, S., K. (2023). The hazards of excessive screen time: Impacts on physical health, mental health, and overall well-being. Journal of Education and Health Promotion, 12, 1-2. DOI: 10.4103/jehp.jehp_447_23.
- Rosadi, D. (2025). Fitur Autoplay di Netflix, Kekuatan Algoritmik yang Bisa Mengatur Penonton. Katadata. Diakses dari https://sisiplus.katadata.co.id/berita/lainnya/2509/fitur-autoplay-di-netflix-kekuatan-algoritmik-yang-bisa-mengatur-penonton.
- Rosidi, H. (2025). 5 Bahaya Fitur Infinite Scroll. IDN Times. Diakses dari https://ntb.idntimes.com/life/career/bahaya-fitur-infinite-scroll-yang-sering-diabaikan-c1c2-01-74scm-tsd1wk.
- Zalukhu, R., N., B. (2025). Screen Time pada Anak, Pahami Dampak dan Panduannya. Siloam Hospitals. Diakses dari https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/panduan-screen-time-pada-anak.