KOTA CIREBON — Pernah menerima video di grup WhatsApp yang membuat Anda spontan berkata, “Serius ini?”. Bisa jadi videonya menampilkan pejabat yang mengumumkan kebijakan mengejutkan, seseorang yang tampak sedang melakukan sesuatu yang kontroversial, atau sebuah peristiwa yang terlihat begitu nyata.
Masalahnya, sekarang kita tidak selalu bisa menjadikan apa yang terlihat di layar sebagai bukti bahwa sebuah peristiwa benar-benar terjadi.
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah berkembang hingga mampu membuat atau memanipulasi video dengan wajah, suara, ekspresi, pencahayaan, bahkan latar belakang yang tampak meyakinkan. Teknologi ini tidak selalu digunakan untuk hal buruk. Dalam industri kreatif, misalnya, AI dapat membantu produksi film, iklan, animasi, hingga pembuatan avatar digital.
Namun, kemampuan yang sama juga dapat digunakan untuk membuat video palsu yang seolah-olah menampilkan seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Di sinilah persoalannya. Ketika sebuah video terlihat nyata, kita cenderung mempercayainya lebih cepat. Apalagi jika video tersebut datang dari orang yang kita kenal melalui grup keluarga atau pertemanan.
Karena itu, di era video yang semakin mudah dibuat dengan AI, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memeriksa informasi menjadi bagian penting dari literasi digital.
Mengapa Video AI Semakin Sulit Dikenali?
Pada awal perkembangannya, video hasil AI relatif mudah dicurigai. Wajah tampak kaku, gerakan bibir tidak sesuai dengan suara, jari tangan terlihat aneh, atau pencahayaan pada wajah dan latar tidak konsisten. Kini, banyak dari kekurangan tersebut semakin sulit ditemukan.
Secara sederhana, AI dapat belajar dari sejumlah besar contoh untuk mengenali pola. Sistem mempelajari bagaimana wajah bergerak ketika berbicara, bagaimana ekspresi berubah, bagaimana cahaya mengenai wajah, hingga bagaimana suara terdengar ketika seseorang mengucapkan kata-kata tertentu. Setelah memahami pola tersebut, AI dapat menghasilkan atau memanipulasi konten baru.
Salah satu istilah yang sering muncul adalah deepfake. Istilah ini merujuk pada teknik berbasis deep learning yang dapat digunakan untuk memanipulasi wajah atau suara seseorang sehingga tampak melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan.
Hasilnya bisa sangat meyakinkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, penonton mungkin tidak menemukan kejanggalan hanya dengan sekali menonton.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Apakah video ini terlihat asli?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang sudah saya periksa sebelum mempercayai video ini?”
Video Palsu Bisa Berdampak Nyata
Video buatan AI menjadi persoalan ketika digunakan untuk menipu atau memanipulasi orang lain.
Salah satu bentuknya adalah peniruan tokoh publik. Wajah dan suara pejabat atau figur terkenal dapat digunakan dalam video yang berisi pernyataan yang tidak pernah mereka sampaikan. Jika video tersebut menyangkut kebijakan pemerintah, kondisi darurat, kesehatan, atau persoalan ekonomi, dampaknya bisa lebih besar karena orang dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah.
AI juga dapat dimanfaatkan dalam penipuan keuangan. Wajah dan suara seseorang dapat digunakan untuk membuat video atau panggilan yang seolah-olah berasal dari atasan, rekan kerja, bahkan anggota keluarga. Korban kemudian diarahkan untuk mengirim uang atau memberikan informasi tertentu.
Ada pula risiko pemerasan dan pencemaran nama baik. Wajah seseorang dapat ditempelkan ke dalam konten yang tidak pernah ia lakukan. Ketika konten tersebut disebarkan, korban bisa mengalami kerugian meskipun video itu sepenuhnya hasil manipulasi.
Artinya, persoalan video AI bukan hanya soal teknologi. Persoalannya adalah kepercayaan. Semakin meyakinkan sebuah video, semakin mudah orang menganggapnya sebagai bukti. Padahal, video pun dapat direkayasa.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Perhatikan?
Tidak ada satu ciri yang dapat memastikan sebuah video adalah buatan AI. Bahkan, beberapa kejanggalan dapat muncul pada video asli akibat kualitas kamera, pencahayaan, atau proses kompresi. Namun, ada beberapa hal yang dapat menjadi tanda awal.
Pertama, perhatikan gerakan bibir dan suara. Apakah keduanya benar-benar sinkron? Pada video yang dimanipulasi, terkadang gerakan bibir terlihat sedikit tidak sesuai dengan suara atau pengucapan tertentu.
Kedua, lihat ekspresi wajah. Ketika seseorang tersenyum atau berbicara dengan emosi tertentu, biasanya beberapa bagian wajah bergerak secara bersamaan. Pada video hasil manipulasi, ekspresi dapat terlihat kurang menyatu atau terasa kaku.
Ketiga, perhatikan tangan dan gerakan tubuh. Jari, tangan, atau bagian tubuh tertentu masih dapat menjadi area yang sulit dibuat konsisten oleh AI, terutama ketika bergerak cepat.
Keempat, amati pencahayaan dan bayangan. Apakah arah cahaya pada wajah dan lingkungan tetap masuk akal sepanjang video? Perubahan cahaya atau bayangan yang tidak memiliki alasan jelas patut dicurigai.
Kelima, perhatikan latar belakang. Tulisan, logo, benda, atau orang di belakang subjek dapat berubah bentuk atau posisi secara tidak wajar.
Keenam, dengarkan suaranya. Suara hasil AI dapat terdengar sangat natural, tetapi terkadang intonasi dan ekspresinya tidak sepenuhnya sesuai dengan situasi. Misalnya, kalimat yang seharusnya emosional terdengar terlalu datar.
Jangan Berhenti pada Videonya, Periksa Konteksnya
Jika sebuah video membuat kita terkejut, justru di situlah kita perlu memperlambat reaksi.
Langkah pertama adalah melihat siapa sumbernya. Apakah video berasal dari akun resmi atau hanya beredar sebagai pesan berantai? Siapa yang pertama kali mengunggahnya? Apakah sumbernya jelas?
Selanjutnya, cari informasi pembanding. Jika video mengklaim bahwa seorang pejabat mengeluarkan kebijakan tertentu, cari apakah informasi serupa muncul di situs resmi pemerintah atau media yang kredibel.
Kita juga dapat menggunakan pencarian gambar balik (reverse image search) atau Google Lens dengan mengambil tangkapan layar dari bagian tertentu dalam video. Cara ini dapat membantu menemukan apakah gambar atau adegan tersebut sebenarnya berasal dari peristiwa lama dengan konteks berbeda.
Untuk pemeriksaan yang lebih mendalam, terdapat pula alat bantu seperti InVID yang dapat membantu memecah video menjadi beberapa frame untuk diperiksa satu per satu.
Sementara itu, alat pendeteksi AI dapat digunakan sebagai tambahan. Hasilnya jangan dianggap sebagai keputusan mutlak karena teknologi pembuat dan pendeteksi konten AI sama-sama terus berkembang.
Yang paling penting adalah menggabungkan beberapa petunjuk.
Jika sumber tidak jelas, klaimnya luar biasa, tidak ada pemberitaan pembanding, dan videonya memiliki sejumlah kejanggalan, tidak ada alasan untuk terburu-buru mempercayainya.
Lima Belas Detik yang Bisa Mencegah Masalah
Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, kita sering merasa harus segera merespons. Padahal, tidak semua informasi membutuhkan reaksi secepat itu.
Video yang mengejutkan justru perlu diberi jeda. Tonton kembali. Periksa sumbernya. Cari informasi pembanding. Jika masih meragukan, jangan teruskan.
Kita mungkin tidak selalu bisa mengetahui dengan mata telanjang apakah sebuah video dibuat AI atau direkam secara langsung. Namun, kita selalu bisa memilih untuk tidak menjadikan sebuah video sebagai kebenaran hanya karena video tersebut terlihat nyata.
Pada akhirnya, literasi digital bukan tentang menjadi ahli teknologi. Literasi digital adalah kemampuan untuk tahu kapan harus percaya, kapan harus memeriksa, dan kapan harus berhenti menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Sebab di tengah teknologi yang mampu membuat sesuatu terlihat nyata, kemampuan paling penting yang tetap berada di tangan manusia adalah kemampuan untuk berpikir sebelum mempercayai.
Referensi:
Chesney, R., & Citron, D. K. (2019). Deep Fakes: A Looming Challenge for Privacy, Democracy, and National Security. California Law Review, 107(6), 1753–1820.
Google. (2024). About SynthID: Helping identify AI-generated content. Google DeepMind. Diakses dari https://deepmind.google/technologies/synthid/
Microsoft. (2024). What are deepfakes?. Microsoft Security. Diakses dari https://www.microsoft.com/en-us/security/business/security-101/what-are-deepfakes/
National Institute of Standards and Technology (NIST). (2024). Artificial Intelligence Risk Management Framework (AI RMF 1.0). Diakses dari https://www.nist.gov/itl/ai-risk-management-framework/
Reuters Fact Check. (2024). Fact Check articles on AI-generated images and videos. Diakses dari https://www.reuters.com/fact-check/
UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Diakses dari https://unesdoc.unesco.org/
Vaccari, C., & Chadwick, A. (2020). Deepfakes and Disinformation: Exploring the Impact of Synthetic Political Video on Deception, Uncertainty, and Trust in News. Social Media + Society, 6(1), 1–13.
Westerlund, M. (2019). The Emergence of Deepfake Technology: A Review. Technology Innovation Management Review, 9(11), 39–52.
Penulis: Fajar Maulana (Mahasiswa Magang IPB Cirebon)
Olah Grafis: Tedi Septiana (Mahasiswa Magang IPB Cirebon)
Pembimbing: Nurrul Baety Tsani
Penyunting: Elsi Yuliyanti
Program Pembimbingan Magang dan PKL
Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Cirebon
Jalan Dr. Sudarsono No. 40, Kota Cirebon, 45134
https://dkis.cirebonkota.go.id
Instagram: @dkiskotacirebon @pemdakotacrb @ppidlapor.cirebonkota